Resolusi 2008

new year resolutionSetiap awal tahun baru, banyak orang (termasuk gue) biasanya membuat suatu resolution: suatu goal yang harus (atau setidaknya di coba) untuk diwujudkan untuk menjadi lebih baik. Pada tahun 2008 ini, goal yang gue bikin enggak banyak, sebenarnya malah cuma satu, tetapi sangat challenging sekali untuk dijadikan kenyataan. Resolusi yang gue bikin adalah.. gue pengen menjadi lebih happy. Hayo loh.. bingung kan. Kebahagiaan memang suatu konsep yang abstrak; bahagia dalam arti apa? Materi? Lahir atau batin?.

Gue pernah baca: happiness is a bird in flight; if you cannot see it in the proverbial horizon, find it within. Berhubung konsep ini mencakupi banyak aspek dalam hidup, gue memutuskan untuk mewujudkan konsep ini systematically, satu demi satu, dimulai dari bersikap lebih jujur kepada diri gue sendiri.

Gue sebenarnya lupa akan resolusi gue ini. Mungkin karena pada awal tahun 2008, jadwal gue sempet sibuk banget dan gue juga waktu itu pindah pekerjaan. Pikiran gue sudah cukup pusing dengan segala macam training, new responsibilities dan proses adaptasi di pekerjaan baru, jadi akhirnya personal development gue malah keteteran. Baru pada bulan Mei setelah gue liburan ke Eropa untuk mengunjungi beberapa teman lama selama 2 minggu, gue balik kesini dan merasa lebih segar, dan anehnya semuanya terlihat lebih clear.

Keesokan harinya, gue langsung menerapkan langkah pertama: putus dari pacar gue selama 4.5 tahun terakhir. Merupakan suatu perasaan yang menakutkan menanggalkan sesuatu yg sudah lama dekat dan comfortable, tetapi gue pikir buat apa memaksa untuk comfortable padahal sebenarnya kita miserable?. Gue sama sekali gak ada rasa penyesalan, dan setiap hari gue bersyukur karena telah membuat keputusan itu.

Langkah kedua adalah menjauhkan diri dari berbagai orang, tabiat dan kebiasaan yang tidak memberi nilai positif buat diri gue, tetapi malah membebankan, menyusahkan atau simply membuat kesal. Langkah ini sebenarnya susah-susah gampang karena gue tipe orang yg apabila bisa, ingin berbuat baik dan menyenangkan semua orang, tapi jelas ini gak mungkin. Gue juga punya keterbatasan waktu, tenaga dan kesabaran. Gue juga enggak mau taken for granted dan dimanfaatkan oleh orang lain. Jadi ingat satu nasihat yang diberikan oleh seorang teman, respect is earned, not given. Kalau kita engga punya self-respect, bagaimana mungkin orang lain akan respek sama kita? Membaca saja aku sulit *jayus*.

Langkah ketiga (last but definitely not least) adalah untuk bersikap lebih realistis. Berhubung gue orangnya ambisius dan perfeksionis, gue sangat sering mangkel (kalo kata orang Jawa) kalo gue enggak berhasil mendapatkan apa yang gue mau. Lah bagaimana bisa happy kalo kerjaannya mangkel melulu?! Jadi caranya adalah beberapa goals gue harus di downgrade dan doa dan perasaan ikhlas harus di upgrade. Lagi-lagi seperti kata pepatah (atau lebih tepatnya doa ya?): God, grant me the serenity to accept the things I cannot change; the courage to change the things I can; and the wisdom to know the difference.

Anyways, posting ini kok jadinya serius banget ya. Gue jadi keinget semua ini gara-gara pagi ini gue menolak ajakan seorang pria untuk nge-date saat makan siang besok. Mungkin buat banyak orang, kejadian ini termasuk lumrah. Si A ngajak si B, tapi si B enggak mau, ya udah di tolak deh (dengan niat untuk lebih dari sekedar berteman), tapi buat gue, hal ini cukup revolusioner *halah norak*. Gue kadang suka enggak enak nolak, karena gue tau dan pernah merasakan betapa susahnya mengeluarkan keberanian untuk ngomong/ngajak dan betapa enggak enaknya ditolak belahan hati/gebetan (aih dangdut). Tapi buat apa gue gue jawab iya, kalau gue ngerasa tertarik dan malah akhirnya akan membuang waktu si doski (aduh ini kok jadi kayak artikel di majalah Aneka). Gue juga udah pernah merasakan dicampakan begitu saja tanpa ada penjelasan *halah kayak sinetron*, jadi daripada tiba-tiba ngilang bagaikan hantu di lagu Lelaki Buaya Daratnya Ratu, mendingan gue jelasin aja kenapa gue nolak dia. Setidaknya hubungan kita ada penutupnya, dan enggak gue biarkan “gantung” begitu aja.

Ada pepatah yang bilang, honesty is the best policy. Sangat simpel tapi alamakjan susah banget untuk diterapkan.

Tahun 2008 masih belum berakhir sampai beberapa bulan lagi, tapi gue bersyukur alhamdulillah karena gue belajar banyak banget dari sembilan bulan belakangan ini.

Posting ini akan gue tutup dengan quotes satu lagi, kali ini dari film Kung Fu Panda:
Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present.

Curhat
Quotes

Comments (3)

Permalink

Irene masak? Yang boneng ting!

cooking disaster

Titel diatas merupakan reaksi pada umumnya dari orang-orang yang kenal gue kalo gue cerita bahwa gue sedang/habis/suka memasak. Bukan cuma masak air atau nasi loh, tapi makanan beneran (oke, sebenarnya tergantung apa definisi “makanan beneran” buat setiap orang). Baru aja gue selesai masak pasta fettucini alfredo untuk bekal sahur besok.

Pasta adalah salah satu jenis makanan spesialisasi gue berhubung cara masaknya gampang banget. Orang Indonesia nyebutnya mie goreng, kalo orang Itali nyebutnya pasta gitu lahh.. sama-sama tinggal rebus, kasih bumbu-bumbu dikit (andalan gue adalah pepper warna-warni plus jamur plus garam dan merica tentunya), jadi deh! Sebenarnya gue juga bisa masak makanan Indonesia, tapi menu-nya enggak terlalu variasi. Cuma berputar antara goreng-gorengan (tahu, mie, dan ayam adalah the usual suspects) dan beberapa makanan standar asia seperti char kwe tiau atau pad thai (yang dengan kata lain sebenarnya masih variasi dari mie goreng juga) atau butter chicken dan green curry chicken yang saking tidak kreatifnya, gue bikin pake bumbu yg sudah jadi. Gue gak bercanda waktu tadi gue bilang gue sangat tidak kreatif di dapur. Sepertinya apabila memasak memerlukan suatu license, gue pasti akan gagal tes nya dan akan di-ban seumur hidup dari seluruh dapur seantero dunia.

Yang konyolnya, padahal udah tau bahwa gue gak bisa masak.. tapi gue paling sebel kalo dibantuin di dapur (pantesan masaknya gak maju-maju).

Gue percaya akan nilai-nilai demokrasi dan adanya pluralitas, tapi entah kenapa begitu gue masuk dapur, gue langsung berganti ideologi menjadi fasisme. Pokoknya kalo bisa semuanya gue kerjakan sendiri (dan berhubung gue gak masak yg rumit-rumit, semuanya jelas bisa dikerjakan sendiri) dan menurut cara gue sendiri. Dari mulai mempersiapkan bahan masak, membaca dan kemudian menghancurkan resep (karena biasanya gue kutak katik dan sudah bisa dipastikan hasilnya tidak enak), memasak sambil joget-joget dan lompat-lompat krn kucing gue mondar-mandir di dapur (mungkin sambil berpikir “halah orang ini masak apa lagi sih?! ambune kok ora karuan tenan“) lalu berdoa (mudah-mudahan enggak kena food poisoning) dan kemudian makan! Kalo enggak enak, biasanya adek gue yg kena imbasnya untuk bantuin ngabisin/buangin.

Gue menyadari bahwa memasak itu layaknya bermain tenis, lompat karet atau tak umpet; kita perlu bakat. Dan gue gak ada bakat sama sekali. Jadi sudah lah semestinya gue nyerah aja. Tapi berhubung gue orangnya keras kepala dan terlalu sering kelaperan (baca: rakus), akibatnya gue pun masih kekeuh untuk belajar masak.

Merupakan salah satu cita-cita gue untuk suatu hari bisa masuk dalam acara tivi Iron Chef, atau setidaknya Wok With Yan (masih ada gak sih acara ini?), atau ya seminimnya Selera Nusantara lah gitu.. dengan mas Rudy Choirudin dan kumisnya yang imut itu. Perjalanan gue memang masih panjang, banyak aral melintang, badai menerpa dan arus menerjang (ini mau masak apa ikut arung jeram sih??), tapi gue tidak akan menyerah!

Sekarang gue akan browsing untuk menu buka puasa besok, mungkin gue akan mencoba salah satu resep dari chef idola gue, Gordon Ramsay, tapi kalo ternyata hasilnya gagal (atau seperti istilah bahasa Jawa yang sering dipake oleh Pak Ramsay, fucking shit).. palingan mie goreng lagi lah.. untung kemaren baru beli satu lusin, hihihi…

Dailies
Masak

Comments (4)

Permalink

Musim mambu kelek telah tiba

Setelah musim dingin yang berkepanjangan (masa sampe awal Juni masih dingin sih bo!), akhirnya Mother Nature berbaik hati memberikan musim panas kepada warga Vancouver (baca: gue) yang sudah misuh-misuh tidak sabaran ingin ber-mandi matahari bak bule yang keputihan (kulitnya loh yg keputihan.. bukan anunya). Enggak butuh waktu lama utk gue sadar diri bahwa gue ini sudah cukup item, dan ternyata panas.. atau lebih tepatnya, kepanasan.. itu enggak enak juga ya.

Gue tinggal di apartemen yang menghadap ke arah Selatan dan banyak (kebanyakan malahan) mendapat cahaya matahari. Kucing gue, yg sudah menderita sakit KTTDSM (alias kurang tidur-tiduran dibawah sinar matahari) sepanjang winter kemaren, adalah makhluk yang paling berbahagia. Dia puas sepanjang hari leyeh-leyeh di balkon, dan kalo udah capek (leyeh-leyeh kok bisa capek?) atawa bosen, dia langsung masuk dan loncat dengan indahnya ke side table menuju sesi leyeh-leyeh berikutnya di tempat tidur gue. No wonder they say “everybody wants to be a cat!”.

Mithril on my side table

Sementara si kucing berbahagia, si pemiliknya menderita. Dari mulai kertas tagihan listrik, buku sampe kursi lipet gue jadikan kipas karena kepanasan, badan pun pelan-pelan mulai ledes karena gatal-gatal akibat panas (dasar orang kampung sih ya.. biasanya cuma sama musim panen dan musim paceklik).

Berhubung gue biasa naik public transit (bahasa Jawanya angkutan umum), musim panas juga merupakan sumber malapetaka yang dikenal dengan istilah smell polution (kan ada istilah noise pollution, boleh dong ngarang smell polution). Gue memang tinggal di negara dengan mayoritas bule, tapi yang namanya kelek mambu (baca: ketek bau) ya mambu meneh. Adalah suatu pengalaman yg menyebalkan dikala harus berdesak-desakan di dalam bis atau skytrain dan bersebelahan dengan orang yg bau ketek. Atau masuk ke satu elevator yang beberapa menit sebelumnya baru saja dihuni oleh orang ber-body odor. Apa gue kemana-mana harus bawa bayfresh ya?.

[Inilah salah satu alasan kenapa waktu di Jakarta dulu, bokap gue gak pernah suka kalo gue naik angkutan umum, gue yakin dia takut anaknya yang enggak tau diri ini (tetapi selalu pake Rexona roll-on supaya enggak bau ketek) digebukin massa krn main semprot orang pake bayfresh.]

Dailies

Comments (3)

Permalink

Hello again virtual world!

Post perdana di domain ku dari jaman baheula yang akhirnya bisa aktif lagi. Cihiiy :)

Setelah sekian lama offline dari dunia blogging dan aktifitas per-website-an lainnya, akhirnya timbul juga rasa kangen dan keinginan utk kembali ketak ketik utak atik. Seneng banget rasanya waktu ternyata gue bisa mengaktifkan lagi javabelle.com

Berhubung ini merupakan post perdana, ada beberapa hal yg sudah long overdue yang akan gue tulis terlebih dahulu:

Terima kasih untuk Agus bhotax dan Thomas orangescale yang telah berjasa merintiskan domain ini dan memberikan segala support dan kesabaran menghadapi gue yg sering clueless. Terima  kasih juga untuk Brandon javajive yang sering membantu dengan segala urusan design (psst, I might need your help again on this one). Ucapan terima kasih juga patut diberikan kepada banyak blogger Indonesia lainnya yang saban kali menjadi sumber inspirasi, sasaran troubleshooting atau hanya sekedar teman chatting: Thalia avocadolite, Killy dreamcorner, Donny donnyverdian, dan teman-teman lainnya yg gak bisa gue sebutin satu persatu (kelamaan euy).

Berikutnya, lebaran emang belum sebentar lagi, tapi gue pikir gak ada salahnya untuk memohon maaf atas segala kekhilafan dan/atau kesalahan yang telah/akan terjadi di masa lampau, sekarang dan masa depan. Komplit kan past, present and future? It’s always nice to start on a clean slate.

Ya wis ah.. kok jadi ngalor ngidul kayak acceptance speech utk Academy Awards wae. Let’s get on with the program!

Dailies

Comments (2)

Permalink